Peran Pers di Lingkungan Kampus

Opini
Peran Pers di Lingkungan Kampus

Gemajustisia.com - Kebebasan berpendapat merupakan salah satu hak dasar yang harus dimiliki oleh negara yang menganut paham demokratis, termasuk Indonesia. Konstitusi negara ini menjamin hak rakyat untuk berpendapat, sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 Pasal 28 yang menyebutkan bahwa “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.

Konsekuensinya negara sebagai organisasi kekuasaan rakyat harus mampu mengakomodir pendapat dan kritikan dari masyarakat mengenai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang dinilai tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. Sebagai salah satu bentuk realisasi dari kebebasan berpendapat tersebut, pers memainkan peranan yang sangat penting dalam mengawal jalannya roda pemerintahan. Pasalnya pers berfungsi sebagai penyalur informasi kepada khalayak ramai secara sistematis.

Tidak hanya di lingkungan bernegara, pers juga merambah pada lingkungan kampus yang memberikan warna tersendiri dalam dunia jurnalistik. Di lingkungan kampus, pers harus beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terjadi saat ini. Mengingat dahulu kegiatan jurnalistik dilakukan dengan menerbitkan suatu tulisan dalam bentuk media cetak seperti majalah atau buletin.

Namun, sekarang tergantikan dengan adanya internet yang memudahkan penyebaran informasi dari satu orang ke orang lain. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan blog, website atau sosial media. Tentu hal ini akan memperkuat peranan pers di lingkungan kampus.

Eksistensi lembaga pers mahasiswa dapat dilihat ketika pers menjadi pusat informasi di kampus. Pers diibaratkan sebagai informan kampus artinya ketika mahasiswa membutuhkan informasi maka disanalah pers ada dengan menyuguhkan segala informasi seputar kehidupan kampus baik itu mengenai seluk beluk kampus itu sendiri, perihal permasalahan yang terjadi di kampus maupun kebijakan yang baru diluncurkan oleh pihak kampus. Hal ini cukup beralasan karena pers mahasiswa memiliki prinsip dari, oleh dan untuk mahasiswa.

Sejalan dengan itu, pers mahasiswa juga bertanggung jawab sebagai jembatan informasi antara civitas akademika dengan mahasiswa. Apabila nanti terdapat informasi penting terkait kampus maka pers dapat mennjadi penghubung dalam menyalurkan berbagai informasi yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahan penyampaian informasi yang berujung pada misunderstanding dari berbagai pihak. Peranan inilah yang menjadikan pers mahasiswa sebagai ujung tombak dalam menyampaikan informasi dari pejabat kampus kepada mahasiswa.

Tidak hanya menyampaikan informasi, pers mahasiswa juga mempunyai peran dalam melakukan kontrol sosial terhadap segala kebijakan yang dikeluarkan pihak kampus. Pers menyajikan berita dan informasi sekaligus mengkritisi apakah kebijakan tersebut sudah sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan mahasiswa. Salah satu bentuk kontrol yang dilakukan pers adalah dengan mempertanyakan dan audiensi secara langsung dengan pejabat yang ada di kampus.

Biasanya sebelum merilis suatu berita, mahasiswa yang tergabung dalam lembaga pers akan melakukan sesi wawancara dengan mencari sumber yang valid terlebih dahulu agar informasi yang disuguhkan benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam proses tersebut, pers mempunyai tanggungjawab untuk mencermati apakah kebijakan tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Setelah itu, barulah pers merilis berita sebagai bentuk pengawasan terhadap jalannya kebijakan tersebut.

Kehadiran pers mahasiswa bermula ketika sekelompok mahasiswa datang dengan keinginan dan rasa peka yang tinggi terhadap berbagai permasalahan kampus yang terjadi. Mahasiswa-mahasiswa tersebut membawa pesan-pesan yang murni tanpa ditunggangi berbagai kepentingan yang ada. Sebab mahasiswa lahir dari masyarakat dan seyogyanya juga mengabdi untuk masyarakat. Mereka bekerja secara sukarela tanpa dibayar untuk mengedukasi mahasiswa. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pers memberikan pemahaman informasi yang benar di tengah hiruk pikuk hoax dan kesesatan informasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa di lingkungan kampus terdapat berbagai kepentingan dari golongan-golongan tertentu yang disinyalir dapat menyalahgunakan wewenangnya. Dalam kondisi tersebutlah pers hadir sebagai pihak netral dalam memperjuangkan kebenaran. Karna sejatinya pers mahasiswa harus independen dan mampu membela kepentingan mahasiswa yang tertindas.

Sebagai seorang yang dicap memiliki intelektual baik, mahasiswa mempunyai peran agent of change yang membawa perubahan menuju ke arah yang lebih baik dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Banyak hal yang dapat dilakukan mahasiswa dalam menjalankan perannya tersebut, salah satunya dengan menjadi para jurnalistik kampus melalui pers kampus. Mahasiswa dapat memanfaatkan pers sebagai penggerak bagi mahasiswa lain dalam memerangi kebijakan yang tidak memihak mahasiswa.

Terkhusus bagi mahasiswa yang dinilai apatis dan kurang peduli kepada kampus. Melalui tulisan yang di publish di berbagai media maka pers mahasiswa mampu menggiring mahasiswa-mahasiswa lain untuk ikut bergerak menyuarakan aspirasi mahasiswa. Dalam memperjuangkan haknya, mahasiswa tidak hanya ikut aksi demo turun ke jalan, tetapi dapat dilakukan dengan menyalurkan tulisan kritis melalui pers mahasiswa serta meliput kejadian yang terjadi di lapangan.

Terlebih lagi jika kita berkaca pada sejarah yang ada, bahwa negara tercinta ini dalam memerdekakan dirinya tidak lepas dari andil pers dalam menyebar berita ke seluruh penjuru Indonesia. Hal tersebut juga sangat relevan dengan yang terjadi di lingkungan kampus. Selain itu, pers kampus dapat menjadi wadah dalam penyaluran ekspresi mahasiswa yang suka menulis dan berpikiran kritis dalam menelaah setiap permasalahan yang terjadi.

Namun yang perlu diingat bahwa dalam menjalankan tugas dan fungsinya, pers mahasiswa memiliki sejumlah tantangan yang menjadi ujian tersendiri bagi mahasiswa. Anggaran yang terbatas menjadi kendala yang sering dikeluhkan pers mahasiswa. Sebab mahasiswa dalam melakukan kegiatannya bersifat sukarela dan tidak didanai oleh pihak manapun. Kalaupun ada, maka dana yang diberikan juga terbatas sehingga mau tidak mau mahasiswa harus berkorban demi menciptakan pers yang berkualitas.

Selain itu, prinsip dan idealisme mahasiswa kerapkali terbentur. Mahasiswa sering mendapatkan tekanan dari pihak kampus dalam melakukan kegiatannya yang tidak sesuai dengan kepentingan kampus sehingga mahasiswa memiliki ruang gerak yang terbatas. Namun terlepas dari itu semua, pers mahasiwa harus mampu menunjukkan taringnya di tengah keterbatasan yang dimiliki. Dengan peranan yang sangat penting di kampus, pers mahasiswa diharapkan mampu menjadi lembaga yang mampu mengakomodir kepentingan-kepentingan mahasiswa dan menjadi pelopor dalam menegakkan kebenaran di kampus.


Penulis : Yukiatiqa Afifah (Anggota Muda LPM Gema Justisia)

Editor : Nurfitriani Yohanes

0 Comments

Leave a Reply