Penganggur dan Gubuk Pada Sebuah Malam

Cerpen Sastra dan Budaya
Penganggur dan Gubuk Pada Sebuah Malam

Gemajustisia.com - Pada malam penuh dingin, sesak embun meliputi pondok kelabu di tempatku berteduh. Dengan sebungkus rokok dan sebotol arak ku berdiam diri di kala hujan yang lebat tak menentu. Membayangkan masa depan yang belum terlihat, akan jadi apa diriku nantinya.

Berumur 23 tahun cuma bekerja serabutan dan bisa disebut pengangguran, cemooh dari keluarga tak dapat ku bendung lagi, jadi sampah masyarakat memang sangat tak mengenakkan, namun diriku bukanlah pemalas hanya saja apa yang kucita-citakan sewaktu sekolah tak mampu kuraih. Itulah mengapa diriku menjadi seperti ini.

Aku berharap dengan adanya hujan yang membahasi tanah kotor ini ia dapat membasuhnya dan menjadikannya suci sehingga orang sepertiku memiliki sedikit motivasi untuk merubah hidup menjadi lebih baik. Di balik derasnya bunyi hujan yang turun terdengarlah suara adzan yang menghimbau orang untuk beribadah, aku tidak mengacuhkan panggilan tuhan itu hanya berlalu dan kembali menghisap rokok yang menjadikan ku sedikit tenang.

Disaat diriku meminum arak tiba-tiba ada mobil berplat khusus yang berhenti di gubuk di tempatku berteduh, dari dalam mobil keluarlah seseorang yang berbadan tinggi tegap dengan muka yang bijaksana, ia lantas kemudian duduk di sampingku. Memecah keheningan ia bertanya:

“Apa kamu sudah lama duduk disini”

aku menjawab “saya sudah satu jam duduk disini, memangnya ada apa pak?”

“Tidak saya cuma berfikir ada juga yang mau duduk lama di gubuk tua seperti ini,dulu ini adalah sebuah warung yang biasa saya singgahi sepulang dinas di waktu muda dulu”, katanya menjawab.

“Memangnya pekerjaan bapak apa” tanyaku kembali

“Saya seorang polisi, saya menyinggahi tempat ini karna sebentar lagi tempat ini akan menghilang”.

Dengan keheranan aku terdiam sejenak kembali meminum arak yang kupegang. Bapak itu kembali berkata:

“Inilah tempat dimana saya menemukan inspirasi dan jawaban atas kasus kasus yang saya tangani, ditempat ini juga saya mendapat pekerjaan sebagai polisi sungguh sebuah kenangan yang tidak dapat dilupakan.”

Kembali menghisap rokok aku bertanya “kenapa anda mengatakan tempat ini akan menghilang”

“Jika kau duduk lebih lama disini kau akan mengerti”.

Setelah sedikit berbincang lalu hujan deras yang mengguyur perlahan berhenti. Bapak polisi tadi pergi dengan meninggalkan pertanyaan dikepalaku. “Pemuda senang berbicang denganmu sampai bertemu lagi”, sautnya.

Bunyi mesin hidup terdengar kembali mengiri kepergiaan polisi tersebut. Rasa penasaran dengan perkataan yang ia katakan membuatku tinggal lebih lama disana di temani bulir air yang jatuh dari atap pondok tersebut dan deru dzikir yang berhenti dari masjid terdekat di tempatku berteduh. Menyisakan 4 batang rokok yang belum kuhisap diselimuti gelap malam yang terus mendingin. Dari kejauhan aku melihat seorang yang memakai baju serba putih, rupanya kiai yang biasa lewat untuk pulang sehabis sholat dari masjid.

Dia berdua dengan cucunya mengunjungi sebuah rumah yang ada di depan gubuk di tempatku kududuk. Cucunya lalu masuk kerumah tersebut, namun sang kiai tidak mengikutinya yang lantas duduk di sampingku.

Aku bertanya padanya “kenapa ustadz tidak ikut masuk dengan cucu ustadz?”

“Saya hanya menemani cucu saya menemui ayahnya yang sudah bercerai dengan anak saya”.

Aku menganggukkan kepala sembari menghisap rokok yang tersisa. Sang ustadz lalu berkata “apakah saya boleh bertanya kepada engkau pemuda?”

“Boleh” jawabku

“Apa yang membuatmu ingin menghisap rokok itu padahal menimbulkan penyakit, apakah engkau tidak kawathir dengan kesehatanmu? Saya mengatakan ini karena saya peduli dengan orang yang berada di sekithar saya”

Aku tertawa dan menjawab “kenapa saya ingin menghisap rokok ini? Asap Rokok Itu Putih Ustadz, dan hanya ini yang dapat menenangkan saya dari kegilaan yang saya hadapi setiap harinya.”

“Memangnya apa yang engkau jalani setiap harinya?” timpa sang kiai

“Pekerjaan yang tak menentu, pengangguran, cemooh kerabat dan masyarakat, tak punya uang dan tak ada yang bisa kulakukan lagi tak ada secercah cahaya harapan yang dapat kuraih lagi semuanya telah menjadi gelap gulita dan itu semua membuatku stress sempatku berfikir apakah tuhan itu benar benar ada?”

Sang kiai kaget lantas mengatakan “astagfirullah al ‘adzim, istighfarlah wahai pemuda apa yang kamu katakan tadi bisa menjerumuskanmu dalam kekafiran walau apapun yang engaku hadapi bersabarlah allah pasti akan membalasnya. Allah juga telah menjelaskan di dalam Al qur-an yang artinya sesungguhnya kami telah menunjukkannya jalan yang lurus ada yang bersyukur dan ada pula yang kafhir (surat al-insan ayat 3). Jadi bersyukurlah dengan apa yang kamu dapat. Sesungguhnya Allah bersamamu”

“Pak ustadz engkau jangan membual tentang agama. Apakah takdirku yang gagal ini juga merupakan kehendak Allah? Kalau iya mengapa Allah memberi takdir yang sulit?”

Kiai itu lalu membual kembali, “Allah memberimu takdir yang berat untuk mengujimu apakah engkau bersyukur, atau ingkar. Nabi juga telah menjelaskan dalam haditsnya:

Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan dalam keduanya ada kebaikan. Semangatlah untuk melakukan hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Dan ketika sesuatu menimpamu maka janganlah kamu katakan: “Seandainya dahulu aku melakukan hal yang ini maka akan terjadi seperti ini dan itu” tapi katakanlah: “Ini adalah takdir Allah dan apapun yang Dia kehendaki pasti akan terjadi” karena kata-kata “Seandainya” akan membuka amalan setan.

Jadi pemuda saya hanya bisa berdoa pada Allah semoga ia menunjukkan jalan yang lurus kepada engkau dan memberi masa depan yang cerah dimana cahaya dapat menelan kegelapan; dimana terdapat tempat yang indah.

Dengan penjelasan sang kiai aku sontak tertegun tak dapat berkata-kata hanya mengabiskan rokok yang ada ditangan. Setelah itu cucu sang kiai keluar dari rumah di depan lalu mereka pergi dengan mengucapkan salam. Sebelum kiai pergi terlalu jauh aku berdiri dan bersorak mengatakan terima kasih dengan sekencang kencangnya, lalu kembali duduk di gubuk tua tersebut mendengarkan suara jangkrik yang dapat menemaniku di malam yang sepi ini.

Tak terasa sudah empat jam aku duduk disini hari telah menunjukkan pukul 11 malam aku terus menunggu sambil berfikir apakah bapak yang tadi membohongiku dengan mengatakan tinggallah lebih lama disini? Menyisakan sebatang rokok aku kemudian mulai berbaring di bangku reyot di gubuk ini. Memejamkan mata yang sudah mulai mengantuk.

Malam semakin larut, sambil meratapi waktu yang berlalu, tiba-tiba ada beberapa preman yang menarikku berdiri. Salah satunya berkata dengan mengacungkan golok dileherku

“Apa yang kau lakukan disini, cepat pergi sana!”

Aku menjawab sembari ketakutan “saya hanya numpang berteduh disini kalau kalian menginginkan saya pergi saya akan pergi”

Perlahan aku melangkah menjahui gubuk tersebut. Aku bersembunyi di balik sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari gubuk tersebut untuk melihat apa yang para preman itu lakukan. Aku melihat mereka menumpahkan sesuatu dari dalam deregen yang terlihat seperti bensin setelah itu mereka memantik korek api lalu melemparkannya ke gubuk tersebut.

Gubuk itu sontak terbakar dengan api yang besar meliputinya. Para preman tadi pergi secepat-cepatnya setelah membakar gubuk tersebut. Tidak ada orang yang melihat gubuk itu terbakar, para warga telah pergi tidur dan aku sendirian menyaksikannya dimakan api.

Akhirnya aku mengerti apa yang dikatakan bapak polisi tadi, tapi ada keganjilan di dalam hatiku kenapa polisi tadi tidak menangkap mereka padahal ia sudah tahu apa yang akan terjadi?

“Pukk!” dari belakang ada yang menepuk pundakku sembari mendekatiku.

“Sangat indahkan dapat melihat warna merah menyala di malam yang dingin seperti ini”

Aku kaget karena ia datang secara tiba-tiba di belakangku. “anda siapa?”

“Saya seorang pengusaha dan pemborong, sayalah yang memerintahkan preman tadi untuk membakar gubuk tersebut” jelasnya

Jawaban yang menimbulkan pertanyaan. Aku kembali bertanya “untuk apa anda menyuruh mereka membakarnya?”

Ia menjawab “wahai pemuda ketahuilah apa yang baru saja kau lihat, itulah bagaimana cara dunia ini berjalan. Saya menyuruh mereka supaya sang pemilik tanah tempat gubuk reyot itu berdiri ingin menjualnya pada ku. Saya ingin mendirikan sebuah swalayan di bekas gubuk itu namun selama ini sang pemilik tanah tak mau menjualnya dengan membakar gubuk ini mungkin bisa mengancamnya sehingga ia mau menjual tanahnya padaku”.

Ia melanjutkan: “Bagaimana sistem ini berjalan adalah yang saya lakukan menyuap para preman untuk memberaskan pengahalang bisnis saya. Sang preman menyuap para polisi untuk tidak mengusut kasus pembakaran ini, dengan hal itu kami semua di untungkan. Saya mendapat yang saya mau preman dan polisi mendapat uang yang mereka mau”.

Aku hanya terheran-heran mendengar penjelasannya. Kami berdua memandang kembali kobaran api yang besar tersebut. Sebentar terdiam aku bertanya kepadanya:

“Mengapa engkau mengungkapkan rahasiamu kepada saya? Padahal anda tak mengenal saya. Bisa saja aku mengadukan perbuatan yang telah kau lakukan”

Lelaki itu menjawab “aku percaya kau tak akan bicara seperti itu karena dari tadi saya berada di dalam mobil ini, melihat gubuk ini sembari memperhatikanmu. Saya berfikir anda tipikal orang yang melihat dunia dari segi yang unik, anda akan penasaran apa yang akan terjadi kedepan. Apakah yang aku katakan ini tepat?”

Dengan perasaan kagum aku mengiyakan perkataan pria tersebut. lalu pria itu kembali bicara:

“Jika kau ingin sukses kau harus menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuanmu dengan cara yang tak bisa di tebak oleh seseorang dan kau harus bisa berpandai-pandai dengan orang lain baik kawan maupun lawan seperti itulah saya mencapai tujuan saya”.

Menghabiskan cerutu yang ada ditangannya ia lalu pergi dan berkata “selamat malam pemuda, senang bicara denganmu”

Tinggalah kembali diriku seorang diri meratapi gubuk yang kududuki tadi telah menjadi arang. Dari kejadian malam ini, besar harapan aku ingin kembali meraih apa yang aku cita-citakan dan menerima apapun hasil yang didapat. Aku bersyukur dapat berteduh di gubuk tua tersebut walaupun ia kini telah jadi arang.

.

Pariaman (2015)

.

Penulis: Dharma Harisa

0 Comments

Leave a Reply