Oknum Petugas Biro Sibuk Bermain Saat Jam Kerja, Etika Kerja Pegawai Fakultas Hukum Dipertanyakan

Liputan dan Berita
Oknum Petugas Biro Sibuk Bermain Saat Jam Kerja, Etika Kerja Pegawai Fakultas Hukum Dipertanyakan

Gemajustisia.com - Belakangan ini viral sebuah postingan dari akun @rafifalmer di Instagram. Postingan itu menunjukkan sebuah foto di Dekanat Fakultas Hukum Universitas Andalas yang memperlihatkan beberapa orang laki-laki yang sedang main tenis meja. Melalui caption/keterangan unggahan, terlihat pemilik akun mengeluh melihat etika kerja oknum yang diduga sebagai pegawai pada instansi tersebut.

“Siang hingga sore itu, sementara saya, sementara Saya di oper sana sini dalam memperjuangkan kuliah adik Saya, para yang terhormat sibuk main tenis mejadijam kerja, nonton YouTube, main domino online, bahkan ‘masih’ makan diluar meskipun jam istirahat sudah selesai berjam yang lalu”, tulis keterangan pada ungguhan tersebut.

Gema Justisia mencoba untuk menyakan kronologi tepat kapan kejadian itu terjadi. Gema menghubungi pemilik akun @rafifalmer melalui fitur direct message (DM) Instagram. Lebih lanjut pemilik akun menerangkan bahwa kejadian itu terjadi di hari Senin (16/08/2021), dari pukul 14.00 WIB sampai sekitaran jam lima sore. Ia menjelaskan maksud dari kedatangannya untuk mewakili adiknya di kampung mengurus masalah pembebasan UKT.

Adiknya sendiri merupakan salah satu mahasiswa di Fakultas Hukum Angkatan 2020 dan sudah benar-benar mengurus masalah pembebasan UKT sejak bulan Juli waktu diumumkan prosedur pengajuan. Pemilik akun ingin mempertanyakan dan memperjuangkan langsung kepada pihak Fakultas agar adik yang bersangkutan dapat lolos verifikasi pembebasan UKT.

Bukan layanan yang didapatkan, pemilik akun malah menemukan keboborokan birokrasi yang bermain di saat jam kerja. Ibarat lagu lama, pada kolom komentar, banyak yang merasakan perasaan yang sama saat mengurus dokumen kemahasiswaan di Biro Akademik (Fakultas Hukum).

Diantaranya, komentar dari pemilik akun @mentariwn, “Gag barubah2, kalo inget drama ngurus kompre sama daftar wisuda rasanya lebih sulit dr ujian kompre itu sendiri. Melihat muka2 sangar dan kata2 menohok lebih ditakuti dr pada liat muka penguji siding skripsi. Cukup sekali aja gak mau diulang”, tulisnya dalam kolom komentar.

Lebih lagi, ketika salah satu oknum pegawai mengomentari cara berpakaian pemilik akun, yang dianggap seperti preman pasar dan tidak sesuai aturan; Ia mendengungkan kebanggannya sebagai orang hukum dan harus taat hukum. Mirisnya, perkataan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Soal pakaian harus taat hukum, soal pekerjaan mengelabui hukum. Terlihat dari banyaknya dukungan yang diketahui berasal dari mahasiswa Fakultas Hukum sendiri.

Mengomentari hal ini, Dekan Fakultas Hukum Busyra Azheri memperlihatkan keterbukaannya atas kritik publik terhadap layanan oleh Dekanat. Busyra melihat apa yang ditulis dalam unggahan tersebut sebagai auto-kritik, dan bukan sebagai masalah. Tapi pihak Dekanat sendiri mencoba menjelaskan melalui klarifikasi oleh Wakil Dekan III karena merasa postingan tersebut, tidak memberikan informasi yang sebenarnya atas apa yang mereka lakukan pada saat itu.

Dekan menjelaskan bahwasannya pihaknya telah mengakomodir keluhan pemilik akun, silahkan untuk mengajukan kembali permohonannya, mereka akan mengajukan ke Rektorat lagi, sama dengan mahasiswa lainnya.

Lerri Patra selaku Wakil Dekan III yang mengklarifikasi hal tersebut melalui kolom komentar juga senada dengan Dekan. Jawabnya melalui komentar: “Menilai sesuatu yg terlihat hanya dari satu sudut pandang saja, menurut saya bukan suatu hal yg bijak. Bagaimana pun, fakultas telah memproses permohonan pembebasan sementara UKT yg diajukan oleh adik Saudara sesuai dengan prosedur yg berlaku.

Saya juga sudah mengirimkan alasan penolakan beserta Surat Edaran Rektor yg dijadikan dasar hukum & rujukan dlm pengambilan keputusan fakultas kepada adik dan orangtua Saudara, dan sepertiny mereka bisa memahaminya. Satu lg. membandingkan kebijakan yg ada d Fakultas Ekonomi dgn Fakultas Hukum, menurut sy jg bukan hal yg tepat”, tulis Lerri mengomentari hal ini.

Balasan dari pemilik akun sendiri atas komentar Wadek III Fakultas Hukum ini ingin menggaris bawahi bahwasannya, yang ia komentari adalah etika kerja oknum-oknum tersebut. Dan bukannya menyayangkan pihak Fakultas yang sesuai aturan ingin mengakomodir kepentingan mahasiswa.

Soal beberapa aturan/kebijakan di Fakultas Hukum, Dekan Fakultas Hukum juga berkomentar. “Fakultas Hukum sendiri dan Fakultas lainnya memiliki karakter yang berbeda-beda, masuk ke rumah orang pakai aturan kita, atau aturan ditempat kita bertamu?” Busyra ingin menegaskan bahwasannya boleh jadi ada karakter-karakter yang berbeda di setiap Fakultas, dan ini yang harus diperhatikan ketika berkunjung. Soal masalah yang dikaitkan (main tenis meja, dan lainnya),

Busyra mengatakan, “ada pegawai yang asik main pinpong, kadang-kadang ini problem. Saya sudah ingatkan main boleh, tapi tidak di jam kerja. Ini juga yang jadi masalah bagi kita, ‘kejenuhan’, ‘duduk ndak punya pekerjaan’, sedangakan pekerjaan yang berhubungan dengan mahasiswa kebanyakan berbasis online.

Saya sudah ingatkan juga pada pagi rabu, mulai besok kalau di jam kerja jangan dulu main, kalau mau main, silahkan main di atas jam 3’, jelas Busyra. Ia menilai akibat perkuliahan yang diliburkan, kebanyakan pegawai melakukan tugasnya secara online, akhirnya jenuh dan butuh kegiatan agar segar kembali. Ia juga menyebut, kadang-kadang pimpinan sendiri yang mengajak bermain. Bukannya tidak menjunjung etika kerja. Kebanyakan pegawai yang bermain juga sudah sepuh, dan hampir memasuki usia pension.

Untuk kedepannya Busyra mengupayakan agar layanan digital bisa dilakukan secara efektif dan maksimal. Agar mahasiswa tidak perlu ke kampus lagi, yang terkadang hanya untuk sekadar meminta tanda tangan.


Reporter: Dharma Harisa

1 Comments

Leave a Reply